Caninea Home Renovation – Why and How

Caninea Home Living Room Uncategorized

Caninea Home pada awalnya adalah rumah kecil seluas 72 m2, di atas tanah seluas 105 m2, dan dibangun berdasarkan desain asli dari developer. Kalaupun ada penyesuaian, hanya penyesuaian minor berdasarkan kebutuhan fungsional aja, seperti tambahan dak beton teras & carport, ruang makan semi outdoor, dan perluasan kamar.

Kenapa di renovasi? Setelah ditinggali selama sekitar 3 tahun, sebetulnya kami merasa rumah ini masih sangat cukup untuk kami bertiga dan seorang asisten. Kekurangannya cuma jumlah kamar aja yang hanya ada 2, sehingga kamar asisten harus digabung dengan kamar main Azka. Diawali dengan niat bikin kamar untuk asisten tadi, mulailah kami bikin desain untuk renovasi tahap 1, dimana ke depannya bisa tumbuh jadi tahap 2, 3, dan seterusnya. Intinya supaya kami bisa membangun bertahap sesuai budget yang ada. Ternyata gak semudah itu ya mendesain rumah tumbuh, apalagi dengan lahan terbatas, desain yang dihasilkan terasa kurang fleksibel dan kurang banyak alternatifnya. Singkat cerita, akhirnya orangtua kami menyarankan untuk renovasi sekalian aja (plus tawaran pinjaman dana pastinya, kalo nggak, ya darimana.. 😂). Oke deh, bismillah, renovasi sekalian aja kalo gitu.

Menyelaraskan desain rumah impian bagi saya dan Yopi sebetulnya gampang-gampang susah. Susahnya, dari segi estetika / visual desain, karena beda karakter kan beda selera ya. Ditambah lagi karena sama-sama punya background arsitek, yang sering liat berbagai referensi, dua-duanya jadi sama-sama BM, banyak maunya. Sebetulnya, selera kami masih bisa dibilang mirip-mirip sih, tapi ada aja preferensi-preferensi kecil yang beda banget. Jadi, diskusi yang cukup alot juga mewarnai proses desain ini, hahaha. Kalo gampangnya, ya karena, untungnya kami cukup paham konsep rumah yang nyaman dan sehat, dan karena sudah tinggal bersama selama 3 tahun, jadi sudah tau alur kegiatan kami sehari-hari, sehingga lebih mudah menyusun kebutuhan dan keinginan yang ingin dicapai dari renovasi ini.

Mengingat budget yang terbatas, akhirnya kami sama-sama merumuskan tujuan renovasi rumah ini, supaya fokus dan desainnya benar-benar bisa memenuhi kebutuhan. Ternyata memang ngaruh sih, proses desain juga jadi lebih cepat dan terarah. Kira-kira ini tujuan renovasi rumah kami:

  • menambah jumlah kamar hingga cukup untuk rencana jangka panjang sekalipun.
  • membagi zoning secara vertikal, lantai bawah khusus area publik dan lantai atas khusus area privat
  • memaksimalkan intensitas cahaya dan bukaan di tiap ruangan seoptimal mungkin. Desain awal rumah kami belum memenuhi poin ini, karena asli dari developer, dimana bukaan-bukaannya standar, sehingga poin ini kami jadikan salah satu tujuan renovasi.
  • membuat ruang-ruang yang berfungsi maksimal, bisa mewadahi berbagai kegiatan yang kami lakukan bersama, kegiatan kami masing-masing, dan juga kegiatan bersama teman/ keluarga yang datang ke rumah.
  • mempercantik tampilan rumah, dengan gaya yang modern dan simpel tapi tetap berkarakter.
  • punya rumah yang bisa membuat gaya hidup kami jadi lebih baik

Dari tujuan renovasi di atas, baru diturunkan jadi kebutuhan yang lebih spesifik. Misalnya, mempertimbangkan kondisi kalau kami nambah anak atau kalau orangtua menginap, kebutuhan kamar tambahan untuk jangka panjang adalah 3 kamar. Terus, karena lantai atas memang dikhususkan untuk area privat, kalaupun hanya terdiri dari koridor dan kamar-kamar, ya sudah memenuhi kebutuhan, gak perlu ada ruang komunal tambahan untuk berkumpul, takutnya malah jadi ruang yang kurang terpakai.

Ingin punya ruang-ruang yang berfungsi maksimal, dipenuhi dengan desain yang menyatu antara ruang keluarga, ruang makan dan dapur. Jadi, misalnya Azka lagi ngemil di ruang makan, saya lagi masak, dan Yopi lagi nonton di ruang TV, masih bisa saling berinteraksi dan punya quality time. Selain itu, ketiga area ini juga diletakan di tengah rumah supaya bisa jadi tempat berkumpul kalau ada teman atau keluarga yang datang. Nah, kalo tentang gaya hidup apa hubungannya? Gaya hidup yang lebih baik bagi kami meliputi minimalist living, pola hidup lebih sehat, tidak konsumtif dan mengurangi frekuensi ke mall, juga lebih produktif di rumah. Ini bisa banget jadi panduan dalam mendesain rumah, misalnya karena mau menerapkan minimalist living, ya kami nggak perlu punya gudang, mau hidup lebih sehat, bisa dimulai dengan punya dapur yang menyenangkan, menyediakan area khusus untuk olahraga di rumah, atau area untuk mencoba bikin home garden, dst.

Last but not least, semua tetap dibatasi oleh budget sih 😄.Meskipun, misalnya secara kebutuhan dan program ruang, budget kami masih aman, keinginan untuk mempercantik visualisasinya yang kadang kemana-mana ya, hehe. Kami sendiri sebetulnya suka desain-desain rumah yang terkesan misterius ala arsitek kekinian seperti ini, ini, atau ini, tapi karena ini judulnya renovasi dan fasad lantai dasar termasuk eksisting yang dipertahankan, jadi sebisa mungkin gak mengubah massa dan garis as bangunan. Kalau hanya mengolah massa lantai atasnya aja, jadinya malah kurang bersinergi dengan fasad lantai bawah yang made in developer. Jadi yaudah, dipercantik dengan pemilihan material yang bagi kami menarik dan bisa di eksplorasi aja.

Semoga cerita singkat tentang proses desain renovasi Caninea Home ini bisa bermanfaat ya, untuk kamu yang berencana ataupun sedang merenovasi rumah. More about renovation, belum lama ini, website kreatif favorit saya, Living Loving, memulai rubrik baru bertema renovasi rumah, yang ditulis oleh mbak Tia, one of my buibu idola. Menurut saya artikel pertamanya aja inspiratif banget, bisa membantu kamu menggali definisi rumah impian versi kamu sendiri, serta menerjemahkannya dalam bentuk kebutuhan ruang. Cus kesini, deh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *